Bojonegoro, predikatnews (Jatim) – Semakin lesunya dunia usaha di tengah hantaman pandemi covid ternyata masih banyak yang memberi perhatian guna membangkitkan ekonomi berbasis desa
Contoh, Pemdes Talok sinau bareng untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi para pengrajin Ale Mlandingan dan Kecambah di wilayahnya.
Pada saat acara berlangsung, Samudi, Kades Talok, Kecamantan Kalitidu, Bojonegoro memberi semangat pada para pengrajin.
Kata Samudi, para pengusaha kecil dan mikro itu harus diproteksi agar mereka mampu bertahan di tengah lesunya pasar.
Dia menginginkan para pengrajin ale dan kecambah itu mendapatkan banyak wawasan dan pengetahuan.
Wawasan itu tentang bagaimana menghasilkan produk yang baik dari sisi kualitas dan kuantitas serta higienis dari proses pengolahannya.
Dengan demikian produk yang mereka hasilkan nantinya juga mampu menembus supermarket.
Oleh sebab itu, dirinya bersama lembaga swadaya masyarakat Gemuruh menggandeng DianKresna Foundation.
Pasalnya, Diankresna Foundastionlah yang memiliki keahlian tentang tehnologi pangan.
“Saya sudah dengar lama soal itu dan hari ini alhamdullilah bisa hadir.” celoteh Samudi.
Soal pola pengembangan para pengrajin, Samudi menyerahkannya kepada pemilik DKF (Diankresna Foundastion), Dian Kresnawati.
Sedangkan untuk penataan menejemennya kades memberi hak penuh kepada lembaga swadaya masyarakat Gemuruh untuk menghandle.
Kades saat itu terlihat begitu semangat dan berharap besar pada para pengrajin yang hadir.
Dian Kresnawati menyampaikan, untuk pengembangan ale dan kecambah butuh sentuhan tehnologi dalam pengembangannya.
Karena, kata Dian, semua pengrajin saat ini masih sangat tradisional untuk cara pembuatan, dan ditingkat kehigienisan produk kurang memenuhi standart.
“Baru kali ini saya melihat antusiasme para pengrajin ale dan kecambah.”
“Mereka sudah sepuh-sepuh tetapi semangatnya patut diapresiasi.” kata Dian.
Dian janji akan menjadikannya prototipe, dan juga tertantang untuk menjawab dan menjadikan hal tersebut modern.
Mbah Kartini, salah satu pengrajin berkata, yang selama ini menjadi masalah adalah sulitnya bahan baku dan ongkos produksi yang tinggi.
“Jika sekali saja gagal sudah sulit untuk bangkit.” jelas Kartini, pada Minggu 7 Maret 2021 siang di balai desa setempat.
Kartini memohon bimbingan ilmu terkait tata cara pembuatan ale dan kecambah yang benar dan higienis.
Suryanto, ketua lembaga swadaya masyarakat Gemuruh menyebut, agenda hari ini bukan hanya mengumpulkan para pengrajin, tapi akan ada tindak lanjut nyata guna mengembangkanya,
Diakhir sinau bareng, kades mengajak pihak DKF untuk melihat langsung rumah para pengrajin, agar tahu secara langsung proses produksi dan kendala yang ada selama ini. (N25).
![]()

Berita Lainnya
Korem 081/DSJ Targetkan 2.145 Koperasi Merah Putih Terbangun di Wilayah Teritorial
Letkol Inf I Nyoman Adhisaputra Ajak Prajurit Jauhi Judi Online dan Jaga Etika Digital
Pengamanan Humanis TNI–Polri Pastikan Keamanan Wisatawan Pantai Prigi