Oleh: Selvie Revirani
(Dosen Prodi Pariwisata Institut Informatika dan Bisnis Darmajaya)
Industri perhotelan merupakan salah satu sektor jasa yang paling dinamis. Dalam dunia yang semakin kompetitif, hotel dituntut tidak hanya menyediakan kamar yang nyaman, tetapi juga menciptakan pengalaman yang tak terlupakan bagi tamunya. Di era globalisasi, kualitas layanan menjadi faktor penentu keberhasilan sebuah hotel dalam memenangkan hati pelanggan.
Di balik pelayanan prima itu, terdapat satu kunci utama: kinerja karyawan. Tanpa karyawan yang bekerja dengan motivasi tinggi dan dalam lingkungan kerja yang sehat, sulit bagi hotel untuk mempertahankan reputasi maupun loyalitas pelanggan. Seperti yang ditegaskan Robbins & Judge (2017), keberhasilan sebuah organisasi jasa, termasuk hotel, bertumpu pada kemampuan sumber daya manusia yang menggerakkannya.
Hotel Kridawisata Lampung, sebagai salah satu penyedia jasa akomodasi di daerah, menghadapi realitas ini. Dinamika internal seperti turunnya motivasi, keluhan tamu, dan meningkatnya turnover karyawan menjadi alarm penting bagi manajemen. Hal ini menegaskan kembali bahwa isu motivasi dan lingkungan kerja bukan sekadar teori di ruang kelas, melainkan persoalan nyata yang menentukan keberlangsungan bisnis perhotelan.
Motivasi sering disebut sebagai “mesin” yang menggerakkan manusia untuk bertindak. Dalam konteks kerja, motivasi berarti dorongan internal maupun eksternal yang membuat seorang karyawan rela mengerahkan energi, pikiran, dan waktu demi menyelesaikan tugasnya dengan baik.
Herzberg (2003) melalui teori dua faktor menjelaskan bahwa motivasi terbagi menjadi dua: faktor motivator (pujian, pengakuan, pencapaian) dan faktor higiene (gaji, kondisi kerja, keamanan). Kombinasi keduanya menentukan apakah seorang karyawan akan bekerja dengan semangat atau sekadar “menggugurkan kewajiban”.
Di hotel, motivasi memiliki peran yang sangat vital. Karyawan di bagian front office, misalnya, setiap hari berhadapan dengan tamu dari berbagai latar belakang. Tanpa motivasi yang kuat, sulit bagi mereka untuk selalu tersenyum, bersikap ramah, dan melayani dengan tulus. Demikian pula di housekeeping, motivasi yang rendah bisa berdampak pada menurunnya standar kebersihan kamar, yang pada akhirnya merusak citra hotel.
Studi terbaru oleh Putri & Tarmizi (2024) menegaskan bahwa dorongan kerja berperan fundamental dalam meningkatkan kinerja karyawan di industri jasa. Hal ini membuktikan bahwa motivasi bukan sekadar “tambahan”, melainkan fondasi keberhasilan layanan. Selain motivasi, lingkungan kerja menjadi faktor penentu lain yang memengaruhi kinerja karyawan. Lingkungan kerja mencakup kondisi fisik maupun non-fisik yang dihadapi karyawan sehari-hari.
Lingkungan Fisik meliputi pencahayaan, kebersihan, tata ruang, ventilasi, dan fasilitas kerja. Hotel yang memperhatikan hal-hal ini akan membuat karyawannya lebih nyaman dan betah bekerja. Lingkungan Non-Fisik (atau psikososial) mencakup gaya kepemimpinan, hubungan antar karyawan, budaya organisasi, komunikasi, serta dukungan sosial.
Menurut Sedarmayanti (2020), lingkungan kerja yang sehat akan meningkatkan semangat kerja, menurunkan stres, dan memperbaiki produktivitas. Sebaliknya, lingkungan yang buruk akan memunculkan keluhan, konflik internal, bahkan memicu niat karyawan untuk pindah kerja.
Di Hotel Kridawisata, wawancara awal menunjukkan adanya masalah pada aspek lingkungan kerja, baik fisik maupun non-fisik. Keluhan terkait fasilitas yang kurang memadai, kepemimpinan yang kurang komunikatif, hingga hubungan antar karyawan yang belum solid, semuanya berkontribusi terhadap turunnya performa.
Temuan Penelitian di Hotel Kridawisata Lampung
Untuk memahami lebih dalam, dilakukan penelitian terhadap 30 karyawan Hotel Kridawisata menggunakan kuesioner yang mengukur tiga variabel: motivasi, lingkungan kerja, dan kinerja. Hasil pengolahan data menggunakan SPSS menunjukkan beberapa poin penting:
Pertama, Motivasi berpengaruh signifikan terhadap kinerja karyawan membuktikan bahwa semakin tinggi motivasi karyawan, semakin baik pula kinerjanya. Kedua, Lingkungan kerja juga berpengaruh signifikan, menunjukkan bahwa kondisi kerja yang mendukung akan meningkatkan produktivitas.
Ketiga, Kombinasi motivasi dan lingkungan kerja memberi pengaruh lebih kuat, membuktikan bahwa kedua variabel secara simultan menyumbang 49,3% variasi kinerja karyawan. Artinya, hampir separuh kinerja karyawan dapat dijelaskan melalui motivasi dan lingkungan kerja.
Temuan ini sekaligus memberi pesan penting bagi manajemen hotel: membenahi motivasi dan lingkungan kerja adalah investasi strategis untuk memperbaiki kualitas layanan.
Implikasi Praktis bagi Manajemen Hotel
Berdasarkan temuan di atas, ada beberapa langkah strategis yang bisa ditempuh Hotel Kridawisata maupun hotel-hotel lain di Lampung: Pertama, Meningkatkan Sistem Reward dan Pengakuan. Penghargaan tidak selalu berbentuk uang. Pujian, sertifikat, atau penghargaan sederhana bisa meningkatkan semangat kerja karyawan.
Kedua, Menciptakan Budaya Komunikasi Terbuka. Pemimpin yang mau mendengar keluhan, ide, dan aspirasi karyawan akan menciptakan rasa dihargai. Ketiga, Meningkatkan Fasilitas Kerja. Peralatan kerja yang lengkap, ruang istirahat yang nyaman, serta standar kebersihan yang baik akan membuat karyawan lebih produktif.
Keempat, Membangun Kerja Sama Tim. Aktivitas team building, pelatihan bersama, hingga kegiatan sosial dapat memperkuat hubungan antar karyawan. Terakhir, Mengembangkan Program Pelatihan. Motivasi tidak hanya dibentuk dari penghargaan, tetapi juga dari peluang berkembang. Karyawan yang mendapat pelatihan merasa dihargai sekaligus tertantang untuk meningkatkan kemampuan.
Tantangan Khusus Perhotelan di Lampung
Lampung sebagai daerah pariwisata memiliki daya tarik tersendiri, mulai dari keindahan pantai hingga potensi budaya. Namun, persaingan industri perhotelan semakin ketat, terutama dengan hadirnya hotel-hotel baru dan platform online yang mempermudah wisatawan memilih penginapan.
Dalam konteks ini, Hotel Kridawisata dan hotel-hotel lokal lainnya harus berbenah. Bukan hanya dari sisi fasilitas fisik, tetapi juga kualitas SDM. Wisatawan kini semakin kritis. Mereka tidak hanya menilai hotel dari kebersihan kamar, tetapi juga keramahan resepsionis, kecepatan layanan, hingga sikap petugas kebersihan. Semua itu adalah refleksi langsung dari motivasi dan lingkungan kerja karyawan.
Refleksi dan Harapan
Hasil penelitian ini memberi gambaran jelas bahwa motivasi dan lingkungan kerja bukan sekadar teori, tetapi realitas yang menentukan keberhasilan hotel. Karyawan yang termotivasi, bekerja dalam lingkungan sehat, akan menjadi aset berharga yang menjaga citra hotel di mata tamu.
Bagi Hotel Kridawisata, hasil ini bisa menjadi titik tolak untuk melakukan perbaikan manajemen. Meningkatkan kinerja karyawan berarti meningkatkan kepuasan tamu, dan pada akhirnya meningkatkan daya saing hotel di tengah persaingan global.
Sebagai dosen dan peneliti di bidang pariwisata, saya percaya bahwa hotel di Lampung memiliki peluang besar untuk maju. Dengan manajemen SDM yang tepat, Lampung bukan hanya akan dikenal karena pantainya yang indah, tetapi juga karena kualitas layanan perhotelannya yang unggul.
Pada akhirnya, kinerja karyawan adalah cermin dari motivasi dan lingkungan kerja yang diciptakan manajemen. Hotel Kridawisata Lampung telah menunjukkan melalui penelitian ini bahwa hampir setengah dari variasi kinerja karyawan dapat dijelaskan oleh kedua faktor tersebut.
Kini saatnya manajemen perhotelan menjadikan motivasi dan lingkungan kerja sebagai prioritas strategis. Karena di era kompetisi pariwisata yang semakin ketat, pelayanan yang ramah, tulus, dan berkualitas tinggi adalah modal utama untuk memenangkan hati pelanggan. (**)
![]()

Berita Lainnya
Keputusan MK: Strategi Pemasaran Politik Jokowi 2029 ?
APINDO Soroti RUU Pelindungan Ketenagakerjaan, Dorong Reformasi yang Adaptif
Perspektif Dunia Usaha terhadap Arah Kebijakan Fiskal dan Penguatan Ekonomi Daerah